Punya Waifu? Bisa Jadi Kamu Seorang Nijikon

[generate_safelink]

Pengertian Waifu dan Nijikon

Istilah waifu sendiri sudah seringkali kita dengar khususnya dalam komunitas anime dan manga. Nah apakah kalian merupakan contoh wibu yang memiliki seorang waifu? Sebelum kita membahas tentang hal itu, mari cari terlebih dahulu apa definisi dari kata waifu.

Apa Itu Waifu?

Pengertian Waifu dan Nijikon

Kata ini merupakan bentuk pelafalan “wife” yang artinya istri. Terkait dengan otaku culture, istilah waifu ini mulai berkembang dengan pesat sekitar tahun 2007.

Dan secara perlahan kata ini digunakan para penggemar anime dan manga untuk menyebut karakter fiksi favorit mereka (khususnya karakter perempuan). Sedangkan untuk menyebut karakter laki-laki favorit biasanya akan menggunakan kata husbando yang berasal dari husband (suami).

Waifuisme Dalam Kehidupan Sosial

Pengertian Waifu dan Nijikon

Tak jarang seseorang memiliki karakter yang disukai baik dari manga, anime maupun video game. Seringkali ketertarikan tersebut muncul karena penampilan ataupun sifat yang dimiliki karakter tersebut.

Budaya waifuisme ini dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan bagi sebagian penggemar anime. Namun bagi sebagian lainnya, ada yang menganggap hubungan dengan waifu itu terlalu serius.

Yap, inilah suatu hal yang sangat ditakutkan dari culture otaku yang satu ini. Dimana ada orang-orang yang terlalu mendalami waifuisme dan membawanya jauh ke dunia nyata. Hasilnya mereka jadi begitu terobsesi dengan karakter 2D, itulah yang biasa disebut sebagai Nijikon.

Apa Itu Nijikon?

Perbedaan Wibu dan Otaku

Ketika budaya waifu ini dibawa terlalu jauh, maka akan menyeret seseorang menjadi Nijikon. Yaitu seseorang yang terlalu terobsesi dengan karakter 2D baik itu dari anime, manga ataupun video game.

Obsesi yang dimaksud disini bukan hanya sekedar rasa suka, namun lebih jauh lagi. Dimana seseorang sudah mencapai level ekstrem untuk mencintai sebuah karakter 2D bahkan melebihi wanita yang sesungguhnya.

Seorang nijikon tidak lagi memperdulikan bahwa karakter tersebut hanyalah fiksi. Bahkan sudah terjadi kasus dimana ada orang yang memilih menikahi karakter fiksi dan hidup bersamanya. Seperti seseorang yang menikahi dakimura (bantal) bergambar karakter favoritnya.

Hal tersebut tentu tak bisa dianggap remeh, terutama bagi masyarakat Jepang. Dimana Jepang adalah negara yang memiliki tingkat kelahiran rendah. Apabila budaya waifuisme ini tidak terkontrol dan menghasilkan para nijikon maka akan menimbulkan efek yang negatif.

Kenapa Seseorang Menjadi Nijikon?

Pengertian Waifu dan Nijikon

Bagi orang yang awam, tentu akan terheran-heran kenapa ada orang yang begitu terobsesi dengan karakter 2D. Apa yang membuat mereka larut begitu dalam dalam culture otaku yang satu ini.

Namun bagi seorang wibu, pasti bisa sedikit mengerti alasan dibalik itu semua. Ketika kita menikmati sebuah anime, manga atau video game, tentu ada karakter perempuan yang akan menarik perhatian para lelaki.

Dari sanalah ketertarikan itu terus tumbuh dan berkembang. Semakin seseorang mendalami hal tersebut, dari yang awalnya cuma sekedar karakter favorit justru berkembang terlalu jauh.

Karena anime dan manga sendiri seringkali menunjukan karakter yang “terlalu sempurna” sebagai seorang waifu. Sosok gadis cantik, baik hati dan menerima seseorang apa adanya.

Suatu hal yang sulit ditemui pada sosok gadis di dunia nyata (ada tapi bagai mencari jerami di tumpukan jarum). Seiring dengan berjalannya waktu, mereka semakin mencintai karakter waifunya.

Sehingga lama-kelamaan menjadi sulit membedakan atau lebih tepatnya tidak lagi menghiraukan antara karakter fiksi dan nyata.

Waifu sendiri juga seringkali menjadi objek pelampiasan karena seseorang tidak bisa menemukan pasangan impiannya di dunia nyata. Sehingga mereka lebih memilih karakter 2D yang dapat mewujudkan segala bentuk keinginannya akan pasangan yang sempurna.

Apakah Kamu Seorang Nijikon?

Pengertian Waifu dan Nijikon

Apakah memiliki seorang waifu itu salah? Dari sudut pandang normal, memiliki karakter favorit tentu bukanlah suatu hal yang salah. Akan tetapi, apabila budaya waifuisme ini berjalan terlalu jauh maka bisa menimbulkan masalah lainnya dalam kehidupan sosial.

Memiliki waifu adalah hal yang wajar, mungkin hanya untuk dikagumi atau dijadikan sebagai inspirasi. Namun ketika batas antara karakter 2D dan kehidupan dunia nyata sudah mulai samar, maka sudah saatnya kalian berhenti.

Apalagi jika sampai berdebat panjang di dalam sebuah komunitas hanya karena waifu war. Cintai waifumu dengan caramu sendiri!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *